Sunday, January 5, 2020

Nagari Bihari Sahibu Wamalikuhu Lamuri

Foto : Batu isan jenis plak-pleng milik Raja Nagari Bihari, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie


Lamuri ialah nama tempat yang telah didentifikasi oleh para ahli merupakan sebuah negeri berada  di ujung barat pulau sumatera, negeri yang lebih awal hadir dari Kerajaan Aceh Darussalam (1507). Sebelum  Lamuri berubah nama menjadi Lamreh  seperti yang kita ketahui sekarang, banyak pelancong (pedagang) yang melintasi Selat Malaka pada abad ke-10 M. Seperti yang dituliskan dalam catatan pelancong ibnu khordlh pada abad ke-9 M menyebutnya negeri Ramni. Sedangkan nama lain menurut sumber  yang didapatkan dari pelancong Abu Zaid Hasan pada tahun 916 M atau abad ke-10 M menyebutkan Ramin atau Ramni, dan sebutan ILAMURIDECAN seperti yang bersumber dari Prasasti Tamjore pada tahun 1030 M atau abad ke- 11 M.

Keraajaan Lamuri  identik dengan batu nisan berjenis plak-pleng,  seperti yang di temukan di daerah teluk krueng Raya dan Lamreh, jenis nisan tersebut sangat berbeda dengan nisan Samudra Pasai maupun nisan Kerajaan Aceh Darussalam, dari segi bentuknya menyerupai tiang tugu, batu yang di ukir dan di penuhi oleh motif hias yang dipahat dalam dengan tema berukuran besar seperti teratai biru atau lotus dan melati atau jasmin.

 Foto : Batu nisan jenis plak-pleng yang terdapat dalam komplek makam Raja Nagari Bihari, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie

Bentuk dan gaya kaligrafi Islamnya juga sangat berbeda, menggunakan jenis khat tsulust-naskhi dengan garis vertical yang melebar dan ujung yang terpotong tajam, batu-batu nisan tersebut di perkirakan di buat sekitaran abad ke- 13 M hingga abad ke- 15 M.

Selain kerajaan Negeri Lamuri, pada abad ke-15 juga terdapat sebuah kerajaan lain yang terletak sebelah Timur Negeri Lamuri, tepatnya di Gampong Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie sekarang. Kerajaan tersebut ialah Negeri Bihari yang  di tandai dengan ditemukannya batu nisan berjenis plak-pleng. Sementara itu pada sebuah batu nisan juga di paparkan penjelasan “Hazal kuburi Raja Nagari Bihari Sahibu Wamalikuhu Lamuri”. (sumber. Mapesa).



 Foto : Batu nisan jenis plak-pleng yang telah patah dan tersebar di komplek makam Raja Nagari Bihari, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie

Dalam Buku The Sume Oriental karya Tome Pires (Ikhtisar Wilayah  Timur, dari Laut merah hingga Negeri Cina), berisi mengenai informasi kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara pada abad ke 16 yang di tulis di Malaka dan India pada tahun 1512-1515 M menyebutkan(v.1.h.138) bahwa: ”Aceh adalah negeri pertama di sisi jalur Pulau Sumatra, Lamuri tepat di sebelahnya, dan membentang ke pedalaman. Negeri Biar berada di antara Aceh dan Pidie sekarang, Negeri-Negeri ini tunduk kepada raja Aceh. Dia memerintah mereka dan  satu-satunya raja disana”.

Sejarawan Kartografi Portugis bernama Armando Cortasao (1891-1977) menyunting dan menerjemahkan kutipan dari buku The Suma Oriental Of Tome Pire, mengenai informasi Negeri Biar, disebutkan bahwa : “Biar- I cannot find any clear trace of the name of this land, situated by pires between Achin and Pedir, with a seacoast corresponding to the present Krueng Raya bay and Blang Raya. (Biar- Saya tidak dapat menemukan jejak yang jelas dari nama Negeri yang oleh Pires di letakkan antara Aceh dan Pidie dengan pantai laut yang cocok dengan apa yang hari ini adalah antara Krueng Raya dan Blang Raya ).”

 Foto : Nampak bekas pelabuhan Nagari Bihari yang telah berubah menjadi tambak warga, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie

Teluk Krueng Raya merupakan sebuah Teluk yang berada di Gampong Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, sedangkan Blang Raya ialah sebuah Gampong didaerah Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie atau Timur Gampong Tuha Biheu.

Sebuah komplek makam yang di tandai dengan batu-batu nisan di era Lamuri pada abad ke-15 berhasil di temukan  sebuah jalur bukit dengan laut selat di mana sungai Biheu bermuara, seburan fregma tembikar dan keramik kuno mengisi area punggung bukit serta larangnya menjadi temuan serta memperkuat keberadaan sebuah permukiman atau kota pelabuhan pada zaman silam. Temuan peninggalan sejarah di timur laut gunung selawah ini di tandai besar dengan di temukan batu nisan yang menjelaskan dengan terang nama negari serta gelar penguasanya yaitu Raja Nagari Bihari.

 Foto : Pecahan keramik yang di temukan oleh tim Beulangong Tanoh di bekas pelabuhan kuno Nagari Bihari. Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie

Bihari dalam bahasa Hindi bermakna kota. Bihari  merupakan sebuah nama dan pengucapan dari bahasa Arab, namun dalam penuturan orang Aceh menyebutnya dengan kata Biheu, menurut data Pakografi yang ditemukan pada salah satu batu nisan di komplek pemakaman tersebut dituliskan bahwa penguasa negeri Bihari bersahabat dan tunduk kepada raja Lamuri berpusat pemerintahan di sebelah Barat Laut Bihari atau Biheu, saat ini berada di gampong Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Kerajaan besar pada abad ke- 14 yaitu Lamuri dan Bihari, terdapat beberapa kesamaan serta keterkaitan antara dua kerajaan tersebut, hal ini menjadi sebuah penemuan besar akan sejarah kerajaan Aceh. Untuk kedepannya kita harapkan semoga kita dapat menelusuri lebih banyak lagi mengenai sejarah Aceh supaya sejarah tidak hilang begitu saja karna kalau bukan kiata siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan peninggalan-peninggalan terdahulu.(an)

 Foto : Pelabuhan kuno Nagari Bihari yang sudah dangkal dan telah di jadikan tambak oleh warga, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie

 Foto : Batu nisan jenis Plak-Pleng yang terdapat dalam komplek makam Raja Nagari Bihari, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie


Foto : Batu Nisan jenis plak-pleng milik Raja Nagari Bihari, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie



 Foto : Batu nisan jenis Plak-Pleng yang terdapat dalam komplek makam Raja Nagari Bihari, Gampong Tuha Biheu, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie
Read More

Wednesday, December 4, 2019

Muqaddam, Warisan Syaikh Abdussalam ( Tgk Syik di Waido)

Foto : kitab Muqaddam sedang di perlihatkan oleh Tgk Abdussalam kepada tim beulangong tanoh


Provinsi Aceh yang  terletak di bagian paling Barat gugusan kepulauan Nusantara, menduduki posisi strategis sebagai pintu gerbang lalulintas perdagangan Internasional. Sejak berabad-abad lamanya Aceh sudah menjadi tujuan utama para pedagang Arab, India, Cina, Persia, dan negara lainnya. Persinggahan  masyarakat dari lintas negara tidak hanya memberi dampak dari segi ekonomi, agama, pendidikan, lebih jauh dari itu telah berdampak pada segi budaya.

Masyarakat Aceh dikenal heterogen, berbagai suku hidup secara berdampingan walaupun berbeda bahasa, sosial bahkan budaya sekalipun. Namun, perbedaan tersebut menjadi sebuah tolak ukur, bahwa masyarakat Aceh sudah terbentuk sebagai civil society (masyarakat berperadaban tinggi). Hal yang sama juga diakui oleh orientalis berkebangsaan Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje. Dia menulis pada pembukaan buku The Achehnese yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bahwa, Aceh harus dimasukkan  ke dalam lingkungan negara-negara yang beradab yang saling menghormati (Christiaan Snouck Hurgronje, 1985: XX)

Bukti tingginya peradaban Aceh dapat dilihat dari banyaknya warisan budaya yang ditinggalkan, sebagian dari warisan itu dapat ditemui dalam kehidupan masyarakat. Salah satu warisan budaya Aceh yang tergolong unik adalah budaya muqaddam.

Secara etimologi Muqaddam berasal dari bahasa Arab, kata dasarnya qadama yang berarti pendahuluan. Sedangkan secara terminologi dapat diartikan sebagai sebuah ritual yang dilakukan oleh petani sebagai upaya memohon perlindungan kepada Allah Swt atas padi yang ditanam. Pemberian nama muqaddam sebenarnya diambil dari nama kitab yang dibacakan pada saat prosesi awal memulai ritual, sehingga banyak masyarakat menyebut ritual ini dengan sebutan muqaddam.

Ritual ini terdapat di Pidie, namun tidak semua wilayah pertanian di Pidie melaksanakan ritual tersebut, hanya terdapat beberapa daerah saja yang dialiri lueng bintang (nama tempat aliran air). Aliran ini menjadi sumber utama masyarakat setempat untuk mengairi sawahnya.

Foto : kitab Muqaddam sedang di perlihatkan oleh Tgk Abdussalam kepada tim beulangong tanoh

Pelopor ritual muqaddam adalah seorang ulama karismatik Pidie yang hidup pada abad ke- 16, memiliki nama lengkap Syaikh Abdus Salam bin Syaikh Burhanuddin bin Syaikh Ahmad Al-Qusyasyi al-Madani bin Syaikh Muhammad Al-Madani al-Anshary bin Syaikh Yunus bin Syaikh Ahmad ad-Dijani. Masyarakat setempat memberi dua laqab kepada beliau dengan nama Teungku Syik di Pasi atau Teungku Syik di Waido.

Selain alim dalam disiplin ilmu agama beliau juga memiliki kapasitas dalam ilmu terapan, salah satunya ilmu agricultural science yang mengkaji bidang pertanian. Banyak kontribusi yang beliau berikan dalam bidang pertanian, diantaranya mencetus pembuatan irigasi untuk pengairan sawah masyarakat, bekas irigasi masih dapat dilihat di Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro. Hasil usaha lain yang tidak kalah pentingn dari Teungku Syik di Pasi adalah memberi gagasan lahirnya kegiatan muqaddam.

Tujuan diadakan muqaddam sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang Maha memberi rezeki, diharapkan padi yang ditanam bebas dari gangguan hama dan penyakit. Tujuan ritual ini memiliki korelasi dengan ajaran Islam, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surah al- A’raf ayat 96:

“Kalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Selain sebagai bentuk mendekatkan diri pada Allah, tujuan lainnya ritual ini untuk mempererat silaturrahmi antar sesama, baik masyarakat yang berprofesi sebagai petani atau bukan, diharapkan memberi kesan positif terhadap masyarakat. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tujuan muqaddam tidak lain untuk menata hubungan baik antara makhluk dengan pencipta dan hubungan sesama makhluk.

Foto : kitab Muqaddam sedang di perlihatkan oleh Tgk Abdussalam kepada tim beulangong tanoh

Muqaddam biasanya dilakukan saat dara pade (usia padi 40-55 hari), jika dikaji dari perspektif ilmu pertanian, usia tersebut dapat dikategorikan bahwa tanaman padi masih dalam fase vegetatif, pada fase ini terjadi perkembangan akar, daun, dan batang baru pada tanaman padi.

Adapun untuk melaksanakan ritual ini, masyarakat mengadakan muafakat terlebih dahulu, dikoordinasi langsung oleh Keujruen blang (pemimpin lembaga adat yang mengurus bidang persawahan), kedudukan lembaga ini sudah diatur dalam Pasal 25 Qanun Nomor 10 Tahun 2008 tentang lembaga adat (Badruzzaman Ismail, 2013: 11)

Saat tiba  pada hari yang disepakati, masyarakat datang ke area persawahan yang telah ditentukan untuk mengikuti ritual muqaddam. Kegiatan awal dalam ritual ditandai dengan pembacaaan kitab muqaddam oleh Teungku imum (pemuka agama tingkat desa) dan diikuti oleh masyarakat.

Dalam kitab itu berisi surah-surah al-Quran pilihan, zikir, dan kumpulan doa-doa. Uniknya, kitab tersebut bukan hasil cetakan, melainkan tulis tangan Teungku Syik semasa hidupnya. Keuunikan lainnya yaitu kitab disimpan dalam wadah berbentuk persegi empat, berbahan dasar kulit kambing kemudian dibunungkus dengan kain putih.

Kegiatan kedua yaitu makan bersama, makanan berasal dari masyarakat yang dibawa pada acara ritual. Dalam hal ini, anak yatim, fakir, miskin menjadi prioritas utama, dipastikan terlebih dahulu mereka sudah mendapatkan jatah makanan, agar memperoleh keberkahan dari Allah Swt.

Foto : kitab Muqaddam sedang di perlihatkan oleh Tgk Abdussalam kepada tim beulangong tanoh

Kegiatan ketiga dalam ritual muqaddam adalah peusijuk (menepung tawar) dan menulis doa-doa pada helaian kain putih, kegiatan ini menjadi puncak ritual. Masyarakat sebelumny telah menyediakan air bunga yang ditampung dalam wadah besar.

Selain air bunga, masyarakat turut membawa beberapa jenis tumbuhan yang sudah diikat menjadi satu ikatan, tumbuhan tersebut antara lain oen seunijuek (cocor bebek), oen manek manoe (daun warna warni), oen naleung samboe (rumput saut), oen gaca (daun inai), oen seuke pulot (daun pandan wangi), oen pineung (daun pinang), oen rehan (daun raihan) , dan oen sitawa (daun sitawa).

Tidak hanya itu, Teungku imum juga menulis doa-doa pada helaian kain berwarna putih, kain tersebut nantinya akan disobek menjadi ukuran kecil dan dibagikan kepada petani. Sebelum disobek, kain yang sudah ditulis doa, air bunga serta jenis tumbuhan yang telah tersedia di peusijuek terlebih dahulu.

Tujuan digunakan air bunga dan beberapa jenis tumbuhan lainnya, besar kemungkinan sebagai pestisida alami untuk mengendalikan hama pada masa itu, mengingat tidak tersedianya pestisida kimia seperti zaman sekarang, sehingga harus menggunakan bahan-bahan organik yang tersedia.

            Setelah peusijuek, Teungku imum secara simbolis menaruh bahan-bahan yang di peusijuek  pada sawah warga, selebihnya diberikan kepada warga. Sebelum mengakhiri ritual, keujruen memberi pengumuman kepada petani agar tidak kesawah tiga hari setelah melakukan ritual karena menjadi pantangan. Demikian runut kegiatan ritual muqaddam berdasarkan hasil observasi di Desa Bunien, Kecamatan Simpang Tiga.

            Menjadi tanggung jawab bersama melestarikan budaya muqaddam, terutama bagi generasi milenial, agar budaya ini tidak tergerus oleh zaman. Selain dipandang sebagai warisan dari leluhur, budaya muqaddam telah menjadi identitas Aceh yang tidak terpisahkan  khusunya bagi masyarakat di Kabupaten Pidie.(ay)
Read More

Sunday, November 24, 2019

Seudati, Warisan Budaya Pidie Yang Mendunia

Foto : tarian Seudati pada penampilan festival Seudati di Pidie
 
Salah satu khazanah kebudayaan tradisi Aceh dalam bentuk seni tari adalah Seni Seudati. Seudati merupakan kesenian tradisional Aceh, berwujud seni tari yang diperankan oleh delapan penari pria dan satu sampai dua orang syekh (penyanyi).

Tari seudati muncul pada  acara tertentu utamanya  kegiatan pendakwahan ajaran Islam kepada masyarakat, menyangkut nilai kepercayaan dan ibadah kepada Allah SWT, etika dan akhlak serta nilai baik bermasyarakat pada ajaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, Tari Seudati kini mulai “ditinggalkan” generasi muda, tidak banyak lagi generasi muda  mampu dan mengetahui Seudati. Belum lagi kekurangan akan generasi yang memahami dan layak menjadi Syekh,pemimpin Seudati

Banyak pendapat mengenai asal usul nama tarian ini. Ada berpendapat penamaan “Seudati” berasal dari kata bahasa arab yaitu “Syahadatain” atau “Syahadati” berarti Syahadat yaitu pengakuan akan keesaan Allah dan pengakuan Muhammad merupakan Rasul utusan Allah. Selain itu, ada pula berpendapat bahwa “Seudati” berasal dari kata “Seurasi” (Bahasa Aceh). Kata ini bermakna kompak dan harmonis. Hal ini sesuai dengan gerakan dalam tarian Seudati.

Foto : tarian Seudati pada penampilan festival Seudati di Pidie

Tari Seudati tergolong kategori “Tribal War Dance” atau tarian perang, dikarenakan syair-syairnya dapat membangkitkan semangat pemberontak pemuda kepada kekuasaan Belanda. Tarian ini sempat tidak di perbolehkan pada zaman pemerintahan Belanda, hingga akhirnya di perbolehkan kembali setelah Indonesia merdeka.

Pendakwah islam memanfaatkan tari ini sebagai media dakwah, karena didalam syair dan gerakan tari Seudati banyak mengandung ajaran agama islam sehingga dijadikan sebagai sarana penyebaran dan pendidikan agama Islam. Selain dapat menghibur, juga mendapatkan ajaran agama dan semangat perjuangan bagi khalayak ramai.

Tari Seudati tidak diiring alat musik hanya mengandalkan bunyi tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke lantai, dan petikan jari. mengikuti gerakan meliuk-liuk mundur beriring irama syair yang dilantukan aneuk Syekh sesuai irama dan tempo yang dinyanyikan.

Foto : tarian Seudati pada penampilan festival Seudati di Pidie

Beberapa gerakan bersifat dinamis, penuh semangat dan kelihatan kaku. Hal itu sengaja dilakukan untuk memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan para penari sendiri. Selanjutnya gerakan tepukan kedada dan perut memaknai kesombongan dan juga sikap ksatria pria Aceh. Tari ini dimainkan oleh delapan laki-laki sebagai penari utama, terdiri satu orang sebagai pemimpin disebut Syekh serta seorang pembantu Syekh, dua orang pembantu sebelah kiri disebut apeet wie, pembantu di belakang disebut apeet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Sedangkan dua orang penyanyi disebut aneuk syahi.

Bagian terpenting tarian Seudati terdiri dari likok (gaya;tarian), saman (melodi), irama kelincahan, yang menceritakan kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama. Sebagian kecil dari sejuta cerita di balik indahnya harmoni gerak Seudati telah member karakter pada seni tradisi Aceh sehingga mengundang decak kagum penikmatnya baik skala lokal maupun dunia.

Menelusuri perkembangan tari Seudati dari dulu hingga sekarang bukanlah hal yang mudah, terlihat jelas tari Seudati sangat popular pada masa muncul Syekh Ampon Bugeh dari Geureugok, Syeh Lah Bangguna dari Pidie, Syeh Ampon Mae dari Mulieng, Syeh Ampon Seuman dari Geudong Pasee dan Syeh Lah Geunta. Syeh Lah Geunta telah mempopulerkan tari Seudati ke mancanegara mulai dari Amerika Serikat, Spanyol, Belanda, Australia, Taiwan dan Malaysia. . Kondisi ini terjadi pada kisaran tahun 1990an sehingga popularitas Syeh Lah Geunta menjadikannya sebagai maestro tari Seudati. (Sumber Seudati di Aceh)

Foto : tarian Seudati pada penampilan festival Seudati di Pidie

Peranan pemerintah dalam upaya pelestarian Seudati pada saat itu cukup baik. Hal ini terbukti dengan adanya sejumlah agenda seni yang di dalamnya ikut ditampilkan tari Seudati terutama pada kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Sejak pagelaran tersebut digelar hingga sekarang, untuk tingkat pemula terdapat juga agenda seni lain yang memberikan ruang kepada Seudati untuk berkembang, seperti kegiatan Pekan Olah Raga dan Seni tingkat sekolah dasar dan menengah sejak tahun 1968. Bahkan semasa Gubernur Aceh Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA, Seudati difestivalkan setiap tahunnya walaupun kemudian sempat tidak dilanjutkan lagi.

Namun, kini peranan pemerintah telah memberi peluang dan ruang kembali terhadap pengembangan dan pelestarian budaya Seudati di Aceh. melalui pagelaran Pekan Kebudyaan Aceh (PKA)  dan bahkan sekarang sudah mulai diperlombakan kembali dalam kegiatan-kegiatan budaya lainnya.(an)


Foto : tarian Seudati pada penampilan festival Seudati di Pidie

 Foto : tarian Seudati pada penampilan festival Seudati di Pidie


Read More

Monday, November 4, 2019

Gedeu –Gedeu, Sumo Masyarakat Pidie

Foto : pemain gedeu-gedeu saat tampil di lapangan bola Kecamatan Simpang Tiga 

Setiap daerah memiliki keunikan yang berbeda-beda, keunikan tersebut menjadi unsur penting dalam membentuk konsep jati diri daerah masing-masing, atau lebih dikenal dengan istilah identitas sosial (social identity). Terbentuknya identitas sosial ini karena adanya keterlibatan, rasa peduli dan rasa bangga menjadi bagian dari kelompok sosial yang dinaunginya, setiap kelompok berusaha untuk menampilkan keunikan yang ada di daerah mereka masing-masing, baik dari segi kuliner, kesenian maupun permainan rakyat. Adapun salah satu diantara keunikan yang menarik adalah permainan gedeu-gedeu atau deu-deu.

Permaianan gedeu-gedeu berasal dari Kabupaten Pidie, salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Aceh. Secara geografis, kabupaten ini terletak pada koordinat 4,30-4,6 Lintang Utara dan 95,75-96,20 Bujur Timur dengan pusat pemerintahan di Kota Sigli. Di wilayah yang di kenal dengan julukan nanggroe kerupuk mulieng (wilayah penghasil emping melinjo), permainan gedeu-gedeu menjadi permainan khas masyarakat Pidie.

Permainan gedeu-gedeu adalah permainan sejenis sumo Jepang atau kusthi/akhara (gulat) di India, juga dinamakan meukrueng-krueng. Permainan ini tergolong permainan tradisional, yang berorientasi pada adu kekuatan fisik dan mental, dibutuhkan tenaga serta strategi sempurna untuk memenangkan permainan ini, bahkan tidak jarang ada para pemain yang cedera akibat sengitnya beradu kekuatan.

Foto : pemain gedeu-gedeu saat tampil di lapangan bola Kecamatan Simpang Tiga.

Permainan gedeu-gedeu sudah dipertunjukkan sejak zaman uleebalang. Pada awalnya, pertunjukkan permainan ini bertujuan untuk menghibur masyarakat, setelah hari-hari yang mereka jalani disibukkan bekerja dengan beragam profesi yang mereka tekuni, diantara masyarakat ada yang berprofesi sebagai buruh tani, utoh, pedagang dan sebagainya.

Salah seorang tokoh dari Pidie, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sumatera masa jabatan Tahun 1945-1948, yaitu Mr. Teuku Muhammad Hasan, pernah mencetuskan  dilaksanakan pertunjukkan gedeu-gedeu di Lampoh Saka. Dia membuat sebuah musyawarah besar, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tuha gampong hingga para pemuda, tujuan musyawarah tersebut untuk membentuk panitia pelaksana permainan gedeu-gedeu di Lampoh Saka. Dalam buku memoar Mr. Teuku Mohammad Hasan halaman 123- 124, dijelaskan:

“Sepulang saya dari Negeri Belanda, saya melihat bahwa pasar Lampoh Saka boleh dikatakan sepi, tidak seramai pasar Caleu. Oleh karena itu saya mengundang orang-orang tua dan orang-orang di pasar bertukar pikiran bagaimana caranya meramaikan keude Lampoh saka. Dalam pertemuan itu disarankan supaya diadakan permainan gedeu-gedeu di atas tanah sawah dekat pasar. Disamping itu diadakan pula adu sapi, kerbau dan domba dengan tujuan untuk meramaikan pasar Lampoh Saka.

Mercermati langkah yang dilakukan Mr. Teuku Mohammad Hasan, yang mengagas  permainan unik ini di Lampoh saka, dapat diketahui bahwa tujuan permainan gedeu-gedeu tidak lagi hanya sebatas untuk hiburan semata, akan tetapi terdapat alasan lain terkait tujuan permainan gedeu-gedeu di Pidie.

Pertama, sebagai sebuah strategi untuk meramaikan pasar, dengan dasar pertimbangan bahwa pasar menjadi denyut nadi bagi masyarakat. Apabila pasar mati maka dapat dibayangkan bagaimana meningkatkan aktifitas jual beli. Oleh sebab itu, dengan diadakan permainan gedeu-gedeu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang ke pasar Lampoh Saka, jika pasar sudah ramai, maka perputaran ekonomi akan lebih stabil, karena aktifitas pasar tidak hanya tertuju pada transaksi jual beli semata, akan tetapi lebih dari itu, dipasar juga akan membuka peluang kerja yang baru, misalnya masyarakat dapat bekerja sebagai pengangkut barang, tukang kebersihan dan sebagainya.

Kedua, sebagai ajang untuk meningkatkan persatuan masyarakat. Permainan ini tidak hanya dimainkan oleh masyarakat gampong tertentu saja akan tetapi turut pula diundang masyarakat gampong lain. Dengan demikian akan terbentuk interaksi sosial serta hubungan emosional sesama masyarakat, paling kurang dengan adanya interaksi tersebut dapat mengetahui bagaimana karakter warga dari masing-masing gampong.

Ketiga, Permainan gedeu-gedeu sebagai salah satu cara untuk melatih ketangkasan pemuda, agar para pemuda tidak terlihat loyo, tidak bersemangat. Adanya permainan ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Dahulu, para pemuda yang menjadi pemain gedeu-gedeu disukai oleh gadis-gadis karena postur mereka kekar.

Foto : pemain gedeu-gedeu saat tampil di lapangan bola Kecamatan Simpang Tiga 

Dalam sebuah wawancara dengan T.M. Daud, salah seorang penonton gedeu-gedeu era 1945, ia menerangkan bahwa gedeu-gedeu saat itu sering dimainkan di Bernuen, tepatnya di area berdirinya Masjid Abu Beureueh sekarang, dulu disitu adalah tanah lapang. Selain itu, juga dimainkan di Blang Mbeek, yaitu  kawasan pusat perbelanjaan kota Berenuen saat ini.

Apabila ingin melaksanakan turnamen gedeu-gedeu bergengsi, maka akan dibentuk panitia penyelenggara, satu bulan sebelum hari H panitia sudah menyebarkan informasi ke berbagai pelosok gampong, bahwa bulan depan akan diadakan turnamen di gampong fulan. Jika waktu turnamen tiba, maka tempat perhelatan gedeu-gedeu biasanya akan dipagar, jika ingin menonton  harus membayar sebesar 1 Rupiah, nilai mata uang  pada  saat itu.

Untuk memainkan gedeu-gedeu diundang pemuda-pemuda gampong  dari  berbagai wilayah lain, diantaranya dari gampong Blang Mangki, Bereunuen, Bambi, Adan, Ie Leubeu, Pineung dan lainnya. Tempat duduk sekalipun sudah diatur sedemikian rupa, tempat duduknya di empat arah mata angin. Para penonton gedeu-gedeu duduk dibelakang atau sekitar orang-orang yang turut berkelahi mengadu kekuatan.

Para pemain jauh-jauh hari sudah menjaga kesehatan, mengonsumsi daging kambing, ada juga daging kerbau adu (Kebeu Pok), menurut kepercayaan saat itu mengonsumsi daging kerbau adu dapat membuat orang menajadi kuat, persiapan harus benar-benar matang, jika tidak akan kalah, kalau sudah kalah akan malu diri sendiri dan gampong. Bintang gedeu-gedeu pada Tahun 1945 diantaranya adalah Alibasyah Aneuk Muda dari Adan, Banta Amat dari Gumpueng, Pang Tam dari Ujong Rimba, Sayet Hasan dari Gampong Keumangan dan ada beberapa lagi lainnya.

Teuku Ishak, salah seorang pemain gedeu-gedeu dari Bambi Mee Hagu juga turut memberi keterangan, bahwa permainan ini dimainkan oleh tiga orang pemain utama, satu orang sebagai penerima serangan atau dalam istilah permainan gedeu-gedeu disebut tukang theun atau tueng, sedangkan dua lainnya sebagai penyerang dikenal dengan istilah pok.

Foto : pemain gedeu-gedeu saat tampil di lapangan bola Kecamatan Simpang Tiga 

Selain pemain utama, terdapat juga ureung semeugla atau ureung peubla, yaitu juru pemisah bagi pemain utama tadi,  lebih tepatnya ureung peubla ini dapat dikatakan sebagai wasit dalam permainan, jumlah wasit ada dua sampai tiga orang,  dikarenakan permainan gedeu-gedeu sangat beresiko, tidak sembarang orang dipilih menjadi wasit, tetapi mereka yang sudah terlatih, berpengalaman, memiliki kapasitas pengetahuan tentang gedeu-gedeu serta memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat.

Permainan ini dimainkan di sawah, dengan arena berbentuk segi empat, ada juga yang melakukan pertarungan di tanah lapang dekat krueng (sungai), makanya selain nama gedeu-gedeu permainan ini juga dikenal dengan sebutan meukrueng-krueng, dengan ketentuan arena harus bersih dan berbentuk segi empat. Sewaktu-waktu ada acara resmi dari pemerintah, biasanya permainan ini turut juga dipertunjukkan di lapangan-lapangan bola, karena tidak mungkin menunggu masa luah blang (setelah panen), serta kurang strategis jika diadakan  dekat sungai, untuk itu digunakan lapangan atau tempat yang layak lainnya.

Adapun atribut bagi pemain gedeu-gedeu tidak terlalu banyak, para pemain hanya menggunakan celana warna hitam yang panjangnya menutupi bawah lutut. Selain itu, pemain  melilitkan kain di pinggang dengan panjang lebih kurang 1 meter, dalam istilah permainan ini disebutkan ija rhroek keu’ieng (kain ikat pinggang), posisi kain harus menutupi pusat, karena batas aurat bagi seorang laki-laki, warna kain dalam turnamen resmi biasanya warna merah, dengan makna filosofis bahwa merah itu warna yang menunjukkan keberanian,  terkadang ada juga yang menggunakan warna kuning dan hijau. Pemain dalam permainan ini tidak dibolehkan menggunakan baju, supaya nampak gagah, juga untuk mengantisapasi adanya kecurangan.

Foto : atribut yang di pakai oleh pemain gedeu-gedeu 

Sebelum ke arena, terlebih dahulu  para pemain gedeu-gedeu menjalani ritual peusijuek (menepung tawari) oleh tokoh gampong, disertai memanjatkan doa kepada ilahi. Selain di peusijuek, para pemain turut diberikan bulukat (pulut), hal ini  bertujuan untuk mengambil berkah, dalam kajian agama Islam dikenal dengan istilah tawassul. Para pemain tidak dibenarkan sombong, apalagi meremehkan lawan-lawannya, karena jika sombong akan cedera ketika berlaga.

Setelah semua siap, barulah pemain turun ke ring. Terdapat seorang pemain yang posisinya sebagai penantang (ureung theun,tueng) dari gampong tertentu, tampil dengan cara berputar-putar di gelanggang, seraya meukeutheup-keutrep jaroe (berketip-ketip jari), bertepuk kedua tangan, dan  terkadang tiarap ke tanah sembari menunggu penyerbu (ureung pok).

Setelah itu, giliran pihak lawan yang menyerbu penantang yang sudah siap menunggu lawan datang, biasanya ada dua orang penyerang, keduanya menyerbu sambil memegang tangan. Dalam aturan permainan ini, orang yang menyerbu tidak boleh memukul penantang tetapi hanya menangkap dan membanting saja, sedangkan penantang diperbolehkan memukul penyerang, tapi hanya memukul di area-area tertentu. jika  bantingan penyerbu  terlepas maka berakhirlah permainan, kesebelasan pemain yang menang akan diberikan hadiah rencong sebagai bentuk penghargaan, serta turut diberikan uang.

Foto : pemain gedeu-gedeu saat tampil di lapangan bola Kecamatan Simpang Tiga 

Sebelum Tsunami, pergelaran budaya di Pidie sering sekali dilaksanakan, terutama permainan gedeu-gedeu, misalnya pada acara 17 Agustus maupun acara resmi budaya. Menurut  Teuku Ishak, ia dan tim pada Tahun 2000 pernah ke Jakarta, tepatnya di lapangan Senayan  untuk menampilkan gedeu-gedeu dalam sebuah event budaya.

Di lapangan bola Blang Paseh juga pernah dilaksanakan, masyarakat mulai dari anak-anak sampai yang tua, laki-laki dan perempuan, dari berbagai penjuru Pidie datang ke acara tersebut dan mereka sangat antusias mengikuti jalannya permainan ini sampai selesai, menandakan bahwa animo masyarakat terhadap permainan gedeu-gedeu masih tinggi. Selain itu, penulis pernah melihat beberapa kali pergelaran seudati yang dilaksanakan di Alun-alun Kota Sigli dengan syeh seudati nya saat itu adalah Syeh Lah Geunta.

Setelah tragedi Tsunami, permainan gedeu-gedeu sudah sangat jarang dipertunjukkan, hal ini sangat disayangkan karena permainan unik ini merupakan permainan khas Pidie yang tidak ditemukan di daerah-daerah yang lain. Bagi generasi milenial, mendengar kata gedeu-gedeu saja tidak pernah, artinya permainan ini suatu permainan asing dan tidak mereka ketahui.

Oleh karena itu, sangat diperlukan perhatian dari pemerintah Kabupaten Pidie, serta instansi-instansi terkait untuk memberi perhatian lebih guna melestarikan permainan gedeu-gedeu, agar permainan unik ini tidak hilang ditelan zaman, karena berbicara tentang kebudayaan, tidak hanya terbatas pada masa dan generasi tertentu saja, tetapi budaya akan diwariskan secara estafet pada generasi selanjutnya.(ay)
Read More